Jumat, 03 Mei 2013

Soal Sarjana dan Tai Kucing yang Menempel di Toganya

Menjadi mahasiswa semester banyak kayak aku, kalimat ngehe yang paling sering mendarat di telinga adalah: "kapan wisuda?". Pengen rasanya sepuluh detik meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-tersering-semester-ini tadi dengan senyum manis dan sejungking jari tengah untuk si penanya. Tapi ah, peduli setan. Sayang amat ngebuang sepuluh detik buat jawab pertanyaan-tersering-tapi-juga-ter-gak-penting. Jadi ya dengerin aja sambil pasang muka "makasih ya perhatiannya".




Miris rasanya melihat teman-teman yang sudah menyandang gelar sarjana lalu berakhir dengan ketar ketir cari pekerjaan bagai orang kelaparan lama gak makan. Ditolak sana sini. Lamar lagi sana sini. Tiada hari tanpa berjuang demi pekerjaan. Bahkan banyak yang akhirnya berpasrah diri dengan bekerja gak sesuai cita-cita. Kerja apapun mau. Asal kerja. Apa kata orang sarjana nganggur? Gengsi fresh graduate lagi tinggi, masa harus berakhir gigit jari?

Fenomena sarjana pengangguran membuat aku dihantui semacam ketakutan akan gelar sarjana. Bagiku, sarjana bukan sekedar gelar. Bukan sekedar hadiah karena aku sudah jungkir balik nungging nyungsep empat tahun lebih kuliah. Bagiku sarjana adalah tanggung jawab. Tanggung jawab atas apa yang orang tuaku percayakan selama empat tahun lebih. Tanggung jawab atas cita-cita masa kecil yang aku percayakan di bangku kuliah. Pungky kecil gak boleh kecewa hanya karena dewasanya gak kerja sesuai cita-cita. 

Bagiku, hadiah menyelesaikan kuliah bukanlah gelar sarjana. Bukan wisuda. Bukan memakai toga lalu diucapkan selamat oleh satu dunia. Selesai kuliah lalu ditolak pekerjaan, bukannya itu sama saja menyakiti perjuangan? Menyakiti empat tahun jungkir balik nungging nyungsep berjuang di perkuliahan. Apa rasanya setelah sarjana lalu gak kerja dimana-mana? Mana hadiah untuk diri sendiri? Mana hadiah untuk empat tahun yang gak mudah. Empat tahun disusahin dosen lalu berakhir pengangguran? Untukku itu bukan hadiah.

Hadiah adalah saat aku selesai kuliah lalu menghadiahi diri sendiri dengan lapangan kerja. Hadiah adalah sarjanaku gak sekedar sarjana. Sarjana yang siap kerja atau siap membuka lapangan kerja. Sarjana yang menempel pada manusia siap dewasa. Siap menghadapi dunia yang sebenarnya. Kuliahku harus ada hasilnya. Harusnya harus.

Tapi, sayang sekali, aku dan jutaan calon sarjana lainnya sebentar lagi akan dihadapkan pada kenyataan yang sudah menampar para sarjana pendahulu: negeri ini hanya butuh angka. Kalau gak punya IPK ya minimal punya duit. Hasil belajar di perkuliahaan kami tinggal deret tulis di ijazah. Sarjana komunikasi jadi akunting di bank udah bukan rahasia umum. Sarjana biologi jadi mas mbak resepsionis? hah! biasa! Negeri kita ajaibnya mentok.

Mama pernah bilang, "Sarjana itu pilihannya dua: jadi pekerja, atau buka lapangan kerja. Kalau cuma jadi pengangguran sih nenek-nenek kayak mama juga bisa"

Semoga saja negeri maha sampah ini akan menerimaku apa adanya. Semoga saja, IPK pas-pasanku gak membuat aku menambah daftar panjang sarjana pengangguran di negeri-oh-indahnya-ini. Semoga saja, semesta benar-benar gak buta membuat cita-citaku benar-benar nyata.

Entahlah, sampai hari ini, aku masih jungkir balik nungging nyungsep bersama skripsi dengan satu prinsip sampah yang aku buat sendiri: "Gak masalah IPK minimal, yang penting doa dan kerja keras selalu maksimal".

Purwokerto, 3 May 2013

Tuhan, baca postingan ini kan?

19 komentar :

  1. keren prinsipnya "Gak masalah IPK minimal, yang penting doa dan kerja keras selalu maksimal"
    semangat dan sukses ya

    BalasHapus
  2. selalu berusahan dan berdoa kak itu sederhana sukses untuk cita2 :D
    semoga kak pungkyy lulus dan punya pekerjaan tetap yang bagus aminnn

    BalasHapus
  3. Oke, Pung. Sebagai mahasiswa Komunikasi yang juga sedang skripsi. Saya merasa terwakili di postingan ini...

    BalasHapus
  4. Jadi galau sendiri...gua udah lulus kuliah dari tahun lalu tapi ga sempet ikutan wisuda gara2 terdampar di negeri orang...hiks...

    Ga semua lapangan pekerjaan melihat IPK kok, yg penting tuh pengalaman dan portofolio =)

    BalasHapus
  5. ipk cuma angka, pada akhirnya skill jugalah yang bikin kita bisa bersaing satu sama lain. oh iya satu lagi, mungkin faktor 'luck' juga kali yah. selamat berjuang ya, mbak pungkiy, semoga sukses dan cepet kelar skripsinya :)

    BalasHapus
  6. betul, ipk bukan patokan skill lah yg paling utama.
    eniwei, lets join my giveaway. hadiahnya free template and design blog juga drawing portrati. cek di sini:

    http://artikamaya.blogspot.com/2013/05/join-my-giveaway.html#comment-form

    have a nice day ;)

    BalasHapus
  7. aku punya dua kakak dan dua dua nya belum sarjana. apalagi kaka yang pertama hampir 6 taun lebih kuliahnya.
    dari sudut pandang aku kak, wisuda alias lulus sebagai kewajiban, kalo kita berhasil nyelesein apa yang udah kita mulai. coba diinget gimana bahagia dan penuh rasa penasarannya kita dulu waktu masih bau-putih-abu-abu dn liat kampus.

    mama aku yang selalu punya rasa penasaran 'gimana ya rasa nya dateng ke acara resmi liat anaknya pake toga'
    walaupun kaka kaka aku selalu bales, ngapain kuliah kalau cuma nyari lulus.

    semangat ya ka punky!
    pasti bisa kok!
    kalau gak sekarang kapan lagi, gak ada yang sia sia dari lulus :D

    kalo ka punky lulus, nanti aku dateng ke sana bawain karangan bunga :3

    BalasHapus
  8. My brother suggested I might like this blog. He was totally right.
    This post actually made my day. You cann't imagine just how much time I had spent for this info! Thanks!

    Have a look at my web site: Coconut Oil For Hair

    BalasHapus
  9. Right here is the right blog for anyone who really wants to find out
    about this topic. You realize so much its
    almost hard to argue with you (not that I personally would want to…HaHa).
    You definitely put a new spin on a subject that's been discussed for a long time. Great stuff, just wonderful!

    My web site - Permanent hair straightening

    BalasHapus
  10. Thankfulness to my father who told me about this website,
    this website is in fact awesome.

    My web site - Refinishing hardwood floors

    BalasHapus
  11. Wow, that's what I was looking for, what a data! present here at this website, thanks admin of this web page.

    Stop by my homepage - diaper rash home remedies

    BalasHapus
  12. ih henceu ih...
    tenang aja sih, orang kayak kamu bakal banyak yang mau ngejadiin pekerja kok... :lol:

    BalasHapus
  13. Jangan dibilang IPK tidak jadi patokan untuk kerja, diawal pasti yang namanya "fresh graduate" itu butuh IPK karena negara-sok-hebat ini selalu menulisnya di lowongan mereka..

    Pungky semangatt... Better gali keterampilanmu dan buka usaha dan ciptakan lapangan pekerjaan. as your mom said, "Sarjana ini ada 2, kalo gk pekerja yang ciptakan lapangan pekerjaan." Pilihan kedua terkadang lebih baik daripada pilihan pertama..

    Semangat dan berdoa banyak semua akan jauh lebih baik...
    Percaya aja semua ada hikmahnya..

    _Sesama sarjana komunikasi_

    BalasHapus
  14. Kalau doa dan kerja keras selalu maksimal hasil akhir juga ikut maksimal dong. Usaha dan hasil nggak pernah tertukar! usaha tinggi hasil pun tinggi :)) *semoga benar aamiin*
    semangat Kak :D

    BalasHapus
  15. Sekarang sih gelar sarjana ga menjamin apapun, yang diliat : skill + relasi.

    ---- Skillnya gimana.. Mampu untuk "bersaing" di dunia kerja atau ga?
    ---- Relasi gimana? Semakin banyak relasi di bidang yg ditekuni malah nambah nilai plus banyak.

    Selama ini sebagian mahasiswa sibuk nyari nilai aja, tapi aktif bersosial untuk menghadapi lingkungan "masa depan" ngga ada. Makanya begitu lulus, terjun ke dunia kerja "blank" . Selama masih kuliah, banyak2in bersosial, ikut kegiatan dll, cari kenalan orang2 yg uda duluan terjun di bidangnya.

    Seringkali calon 'penerima' kita hanya 'ngeliat' kita doank, ga perlu liat ijazahnya. Tapi ya tetep work for it, intinya ijazah bukan segalanya.

    Sukses, ya :)
    Hehehe, berdasarkan pengalaman :)

    BalasHapus
  16. Sekarang sih gelar sarjana ga menjamin apapun, yang diliat : skill + relasi.

    ---- Skillnya gimana.. Mampu untuk "bersaing" di dunia kerja atau ga?
    ---- Relasi gimana? Semakin banyak relasi di bidang yg ditekuni malah nambah nilai plus banyak.

    Selama ini sebagian mahasiswa sibuk nyari nilai aja, tapi aktif bersosial untuk menghadapi lingkungan "masa depan" ngga ada. Makanya begitu lulus, terjun ke dunia kerja "blank" . Selama masih kuliah, banyak2in bersosial, ikut kegiatan dll, cari kenalan orang2 yg uda duluan terjun di bidangnya.

    Seringkali calon 'penerima' kita hanya 'ngeliat' kita doank, ga perlu liat ijazahnya. Tapi ya tetep work for it, intinya ijazah bukan segalanya.

    Sukses, ya :)
    Hehehe, berdasarkan pengalaman :)

    BalasHapus
  17. makanya cepet lulus neng....biar si e'e bisa berubah jadi berlian...hihhihi...mmuuuaaah..

    BalasHapus
  18. salam sukses. tulisannya kembali menggugah saya sbg mahasiswa yg masih anget2 nya

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...