Selasa, 28 Januari 2014

Petualangan Finansial Pekerja Seks Komersial

Menjadi perempuan pekerja seks, seringkali dianggap pekerjaan yang mudah dan cepat menghasilkan uang secara instan oleh banyak orang. Seorang perempuan pekerja seks, akan mendapatkan banyak uang hanya dengan bermodalkan tubuh mereka. Banyak orang yang tidak tau, betapa menjadi perempuan pekerja seks adalah tidak mudah. Tidak asal bertubuh seksi dan mau ditiduri.

Malam itu, aku berkunjung ke kost salah satu wanita pekerja seks tidak langsung di Baturraden. Dia seorang pemandu lagu di sebuah tempat karaoke terkenal di Purwokerto. Tentu saja, bukan sekedar pemandu lagu. Pemandu lagu kawasan portisusi jelas memiliki pekerjaan ‘tambahan'.

Dia bercerita panjang lebar kepadaku tentang pekerjaan dan penghasilannya. Dalam dua minggu, tempat karaoke dimana dia bekerja membayarnya sampai di angka dua juta tujuh ratus ribu rupiah. Aku sempat ternganga. Berarti dalam sebulan, perempuan ini dapat menghasilkan uang sebanyak lima juta rupiah lebih hanya dengan menemani tamunya karaokean. Lalu aku bertanya, dihabiskan untuk apa saja uang sebanyak itu hanya untuk hidup satu orang?


Dan dimulailah sebuah petualangan finansial seorang perempuan pekerja seks yang belum pernah aku dengar. Gajinya memang banyak. Lima juta rupiah lebih untuk satu bulan. Namun hidupnya menuntut uang yang lebih banyak. Beberapa rupiah dari uangnya akan ia kirim untuk keluarganya di kampung setiap bulan. Sisanya untuk keperluan hidupnya seperti makan dan lain-lain. Aku masih berpikir. Tentu saja sisanya masih sangat banyak. Biaya hidup di purwokerto tidak akan sampai berjuta-juta untuk satu bulan dan hanya satu orang. 

Tenyata tidak berhenti sampai di situ.

Dia bercerita, setiap bulannya, dia dituntut untuk membeli gaun dan sepatu baru demi pekerjaannya. Belum lagi make-up, perawatan tubuh dan tetek bengeknya. Persaingan menjadi primadona di tempat karaoke menuntut dia harus selalu tampil menarik dan tidak membosankan. Baiklah. Keperluan yang menurut aku tidak penting ini tidak murah. Namun apa mau dikata, pekerjaan menuntutnya demikian. Tampil menarik dan tidak membosankan adalah senjata para pemandu lagu agar tetap dilirik tamu. Mesin penghasil uangnya.

Dia berhenti cerita. Mengambil ponselnya dan sibuk berkirim pesan dengan entah siapa. Sampai tiba-tiba dia mengarah padaku dan berbicara “Pulangnya nanti aja ya.. Aku gak kerja malem ini. Udah ijin”. Kontan aku bertanya “Emangnya gak apa-apa?”. Dan dia menjawab, bahwa ditempatnya bekerja, bolos kerja semalam adalah empat ratus ribu rupiah. Setiap pemandu lagu yang tidak masuk kerja, harus mengganti rugi kepada tempat karaoke sebesar empat ratus ribu rupiah per malam. Bukan angka yang kecil untuk sekedar tidak masuk kerja satu kali. 

“Nanti dipotong gaji. Tiap gak masuk empat ratus ribu” tambahnya. 

Kepalaku menghitung lagi. Baiklah, gaji lima juta sebulan akan terpotong empat ratus ribu setiap tidak masuk kerja.

Kami melanjutkan obrolan. Aku penasaran, bagaimana kalau ada pemandu lagu yang sakit? Apakah hal yang di luar kuasa manusia tetap harus diuangkan sebegitu besar? Kemudian dia menjelaskan, bahwa dengan surat dokter, maka akan diberikan ijin tidak bekerja selama tiga hari. Dengan kata lain, surat dokter hanya berlaku tiga hari. Apapun sakitnya. Selebihnya empat ratus ribu rupiah lagi per malam.

Sambil kami bercerita, seorang temanku menanyakan tentang biaya kamar kost yang ia tempati. Harga sewanya empat ratus ribu rupiah per bulan. Dan ternyata itu tidak ia bayar dengan uangnya, melainkan ditanggung oleh seorang laki-laki yang menjadikannya simpanan. “Kalau harus bayar kamar kost juga, ya gaji aku mana cukup..”, dia menambahkan. 

Lalu aku berpikir, berarti lima juta untuk satu bulan adalah banyak. Namun kebutuhan hidup seperti makan dan lain lain, keperluan kecantikan demi tampil menarik, kirim uang ke kampung, biaya ganti rugi kalau tidak masuk. Jika semuanya sudah dijadikan rincian pengeluaran, berarti lima juta untuk satu orang selama satu bulan adalah... pas.

Aku kemudian berpikir lebih jauh. Bagaimana nasib para perempuan pekerja seks lain yang hidupnya tidak seberuntung perempuan ini? Mereka yang penghasilannya sebulan tidak seberapa, yang hanya mampu mangkal di pinggir jalan karena tidak ada modal ini itu untuk menjajakan diri di tempat-tempat portitusi bergengsi, yang tetap harus tampil cantik dan menarik, yang harus menyisihkan uangnya untuk keluarga di kampung. Mereka yang juga butuh uang untuk makan, untuk tinggal, untuk hidup.

Banyak orang yang mengira, bahwa menjadi seorang perempuan pekerja seks adalah pekerjaan yang sangat berlimpah uang. Hanya menjual tubuh seksi lalu dibayar tinggi. Bisa menjadi kaya hanya dengan sekali dua kali menduri pria. Namun kenyataannya tidak demikian. 


Purwokerto, 28 Januari 2014


Hidup tetap berlaku adil dan rata pada siapa-siapa. termasuk pada perempuan-perempuan yang menjajakan tubuhnya.

49 komentar :

  1. baru kemarin baca sharenya Mbak baby Jim Aditya yg blusukan di tempat prostitusi kumuh...dibayar 35 ribu, dipotong utk sewa "kamar" (bilik dibatasi kardus bekas dan sewa kardus buat alas (sori) pantat karena bilik yg dipakai itu cuma dari kayu yang dipasang di atas got.... #pusingmendadak :'((((

    perempuan yg kamu temui bisa dibilang "beruntung" dalam tanpa kutip emang...tapi andai ada pilihan lain buat mereka selain jadi PSK... :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya ada pilihan, tapi kan hidup selalu tentang memilih :)

      *sekali kali bales si emak rada serius* *dilelepin air kobokan*

      Hapus
  2. Hm...kalau kaya Pretty Women kaya juga nantinya...hihiii, tapi yang jelas kudu ada alokasi uang eksehatan buat mereka tuuh *eh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka andalannya puskesmas.. karena pemeriksaan penyakit serius kayak HIV, papsmear dll, selalu dipegang LSM atau pemda. Jadi duitnya lebih banyak keluar buat dempulan :D

      Hapus
  3. iyha kalo sakitnya cuma demam,istirahat cukup aja udah ok,,nah kalo sakitnya parah gimana nasibnya yak.... :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo sakitnya parah, biasanya mereka calling 'si om' :D

      Hapus
  4. Kak Pungky, aku jadi mbayangin kalau sekarang saat muda saja uangnya sudah pas, nanti saat tua, saat make up dan perawatan kecantikan nggak bisa lagi menutupi kulit yg dimakan usia, mereka mau kerja apa? :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. dunia luas, Tuhan maha kaya, pilihan selalu ada, pungky selalu sok bijak. okesip.

      Hapus
  5. Orang bilang, "uang yang didapat dengan cara yang tidak berkah cepat hilang juga". Bisa jadi ini yang berlaku pada para PSK

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah setuju bangeeeet.. Tuhan kan maha adil yah? :')

      Hapus
  6. walaaah... kok sampe segitunya mencari tahu..... xixi...iya lah pekerja seperti itu memang butuh biaya banyak, persaingan ketat. dia belum cerita tentang jaminan sosial ke preman. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. oiyaaa... itu juga.. butuh duit banyak yah.. demi gak dilecehin lebih banyak orang :\

      Hapus
  7. byuhh.. trus dia lenongannya merek apa yahh *teteeeuppp yaa.. pertanyaannya
    itu ngga cukup karena mungkin "ngga barokah" itu kali ya
    :( semoga cepat ditunjukkan ke jalan yg benar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin doi pake bulu mata syahrini, jadinya mahal... muahahahahahha *dipecat*

      Hapus
  8. Bnr ya uang yg di dapat dgn jln bgnian ga kan tahan lama, boro2 barakah... Mereka lupa kecantikan yg mrka punya suatu hri nti akan hilang..
    Btw pertama x komen nih, salam kenal Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul... mereka menjual hal yang sebentar lagi cuma terlihat kerut-kerut menyedihkan :)
      Salam kenal jugaaaaa :D

      Hapus
  9. Semoga diberi hidayah...setiap manusia punya pilihan,mau jln mn yg ditempuh....resiko kan jg ditanggung sendiri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiiin... makasih udah mampir ^_^

      Hapus
  10. salam kenal mak pungky pertama kali berkunjung :), dengan keadaan seperti itu pasti persaingan juga kenceng makanya harus slalu tampil menarik,.banyak pemasukan pengeluarannya juga besar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah kenapa aku gak tertarik jadi psk. ribet cyiiin! hihihihihihihi *mulai ngaco*

      Hapus
  11. kl udah rugi gt, kira2 apa mereka masih mau meneruskan pekerjaan itu mbak?

    BalasHapus
  12. jadi anggapan kalau mereka memiliki penghasilan besar belum sepenuhnya benar ya karnea masih ada yang penghasilannya minim

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasanya kan orang mikirnya psk itu duitnya segambreng karena kerjanya enak dan gampang. ternyata gak seenak dan segampang itu.. hehehehe

      Hapus
  13. Konsepnya sih sama kali ya kaa, semakin besar pendapatan pengeluarannya juga semakin besar :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, psk dan ibu rumah tangga itu sejenis yes, besar pasak daripada kabel :)) *tjurhat*

      Hapus
  14. Hiksss ya begitulah hidup di dunia mereka, high maintenance :))
    Maka, bersyukurlah kita yang tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk ini itu seperti mereka.
    Btw, adakah mereka bercerita tentang susuk atau pelet yang biasa digunakan? itu juga hal menarik loh> btw, salam kenal ya :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau di area porstitusi baturraden, 'kecantikan' mereka biasanya didukung dengan mandi di kawasan pancuran tujuh setiap selasa kliwon. jadi kalo malem slasa kliwon, tempat wisata yang itu banyak bidadari mandi :D

      Hapus
  15. Btw, ini dalam rangka apa nanya ini-itu ke PSK? *penasaran sejak pertama liat judulnya*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihihi kebetulan aku pernah kerja di LSM yang mendampingi psk dan waria. Jadi sampe sekarang masih suka main atau ngobrol atau ketitipan curhat :D trimikisi mik isti sidih mimpir :P

      Hapus
  16. Wah mengupas sisi kehidupan para kupu-kupu malam, jadi lebih memahami deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo psk tidak langsung, biasanya kunang kunang.. kuliah ngangkang kuliah ngangkang X)))

      Hapus
    2. HAHAHHAHAHAHH KULIAH NGANGKAAAANG COBAK! :D :D :D :D

      Hapus
  17. Keren Pungky...tulisannya....sisi lain dari kehidupan yang memang byk ya di sekitar kita..:)

    BalasHapus
  18. berkualitas dan bermanfaat banget gan :)

    BalasHapus
  19. mak Pungky, ini fenomena menyedihkan yang sedihnya banyak ditemui di beebrapa sudut Indonesia...harusnya banyak pilihan yan lebih baik untuk perempuan-perempuan ini, tapi seringkali kompensasi yang didapat tidak sesuai dengan kerja yang sudah dilakukan, jadinya selalu ambil jalan pintas...aku dengan temen2 LSM sering bahas isu ini, tapi jalan keluarnya ada di tangan perempuan2 itu..mau atau tidak, itu aja...#iissshseriuuuuss ..thanks postingannya neeeng..

    BalasHapus
  20. Nonton mata najwa semalem saya jadi ingat tulisan mba pungky ini. Kisah yang dituturkan mba Pungky mirip sama yang ibu Risma ceritakan, soal nenek2 psk yang diusianya ke 60 tahun masih "kerja" karena dulu sejak muda ga bisa nabung... :(
    bagus banget tulisannya :D

    BalasHapus
  21. mba saya lagi nyusun skripsi,, ya kurang lebih tentang PL (pemandu lagu) memang persis seperti apa yang mba sebut. mba bisa bantu ga buat referensi?

    BalasHapus
  22. ya Alloh...udah mah ga ada lebihnya...ga halal pula :(

    BalasHapus
  23. Memang kasihan ya mereka-mereka itu...bersyukurlah kita-kita yg masih diberkahi kemampuan dan talenta untuk bekerja dan mencari nafkah...

    BalasHapus
  24. Campur aduk kalau udah baca kaya gini. Kadang marah tapi kasian juga. Di mata aku gaji segitu besar loh, karena gajiku perbulannya kurang dari setengah gaji mereka. Semoga suatu saat nanti ada yang bisa 'menyelamatkan' mereka. Karena sebagai perempuan, hidup dilingkungan seperti itu 'resikonya' terlalu tinggi.. :'(

    BalasHapus
  25. Doanya apa...ya..
    A.dapet pelanggan lebih bnyk
    B.berdoa biar cpt DPT suami kaya cwenya
    C.semoga sadar dan mau hidup sederhana seadanya
    D.semoga dikenalkan Dr sgala jnis virus


    #serbasalahdoanya

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...