Kamis, 10 April 2014

Kepada Mereka

Ada cerita lucu cenderung menyayat hati, datang dari seorang sahabat, kakak sekaligus ibu bagi sebuah kampung di Purwokerto. Kampung ini kampung ajaib.. Namanya kampung Rahayu, atau biasa juga disebut kampung dayak. Penduduknya adalah orang-orang marginal yang kebanyakan datang dari luar Jawa. Mereka, ke pulau Jawa, niat awalnya adalah merantau dan mengadu nasib. Namun, bagaimanapun nasib selalu punya jalan sendiri yang sukar diadu-adu. Mereka ‘nyangkut’ di Purwokerto dan akhirnya menghabiskan hari di kampung ini. Makanya, kampung ini lokasinya dekat dengan tempat yang dulunya terminal bis. Karena menurut sejarahnya, para penduduk di sana adalah perantau pengadu nasib yang baru turun bis langsung-malah diadu oleh nasib.

Kebanyakan masyarakat di kampung ini hidup bahagia tanpa KTP. Yaiyalah, wong mereka perantau yang kesangkut. Sekali lagi, pengadu nasib yang malah diadu oleh nasib. Kebanyakan mereka bekerja sebagai pemulung, perempuan pekerja seks, waria, pengamen, pengemis, bahkan preman. Beragam, mulai dari lansia sampai balita atau bayi merah. Namanya juga kampung, semuanya ada. Betul, anak-anak di sana hidup berdampingan dengan waria, pekerja seks, preman, dan sudah sangat biasa.

Lanjut soal cerita lucu cenderung menyayat hati tadi. Jadi, di kampung ini, anak-anak kecil banyak yang mau gak mau harus bekerja menjadi pengamen di jalanan. Diam-diam? Tentu enggak. Mereka mengamen malah karena titah dan doa restu orang tua. Sepulang sekolah, mereka akan ganti baju lalu bersama-sama ke jalanan untuk cari uang. Biasanya, setiap anak akan membawa pulang rupiah sekitaran 45ribu rupiah. Hasil nyanyi sambil ngecrek tutup botol atau malah cuma keprok keprok.

Nah, ada satu anak di sana yang setiap pulang mengamen, hanya setor sekitar 7-8ribu kepada ibunya. Sekali dua kali, tentu wajar. Masyarakat di sana sadar bahwa uang hasil mengamen bukan gaji kantoran. Gak akan stabil. Tergantung banyaknya dermawan yang lewat atau kebaikan satpol pp gak iseng razia. Masalahnya, anak satu ini hampir setiap hari penghasilannya selalu jauh di bawah teman-temannya. Ibunya, curiga dan penasaran.

Usut punya usut, terjawablah kenapa bocah sembilan tahun ini gak pernah bawa uang sebanyak teman-temannya. Ternyata setiap hari, anak ini bukannya mengamen, tapi sibuk joget-joget ala Cherrybelle di trotoar jalan. Katanya, dia pingin seperti Cherrybelle. Dia pingin menjadi seperti Cherrybelle. Joget-joget di trotoar jalan, baginya, Cherrybelle banget.

Teman-temannya sama. Mereka juga setiap hari asik menari-nari ala girlband sembilan personil itu. Tapi, teman-temannya masih bisa membagi waktu antara mengamen dan joget-joget. Jadi penghasilan gak pernah berkurang jauh dari biasanya. Sedangkan anak ini, dia terlanjur bahagia bisa menjadi seperti idolanya. Joget-joget di trotoar seperti Cherrybelle membuat dia lupa harus bekerja. Joget joget seperti Cherrybelle menjadi satu-satunya permainan yang dia punya.

Ibunya marah dan kesal, tentu saja. Tapi si anak tetap bahagia. Wajahnya gak sama sekali menyiratkan penyesalan. Dia sudah bermain dan senang. Sekalipun pulang harus kena omelan, dia sudah bahagia bisa menari bak idola. Temanku sesekali meledek ibunya soal Cherrybelle ini, kontan saja sang ibu semakin bete dan ngedumel. Sebenarnya lucu, tapi mari kita membahas yang lebih penting untuk ditertawakan: Keberadaan kita untuk mereka.

Sepulang cari uang, anak-anak ini sudah kehabisan waktu untuk bermain. Mereka harus beristirahat karena besok pagi harus sekolah dan bekerja lagi. Maka benar saja, halaman bermain bagi mereka adalah jalanan. Trotoar. Tempat mereka berkumpul, bermain, tertawa dan bercanda setiap harinya. Sekalipun dilakukan sambil bekerja.

---

Aku, dan seorang ibu bernama Luqyana Vera, akan mengajak mereka bermain dan bersenang-senang. Kami akan mendongeng, bernyanyi, bercerita, lari-larian, tertawa, dan berbagi hadiah sederhana. Kegiatan khas anak-anak. Kami juga akan meninggalkan beberapa buku cerita anak di rumah sahabat kami yang menjadi ‘ibu’ bagi masyarakat di sana. Tidak banyak yang bisa kami lakukan, tapi setidaknya, ada keceriaan dan kebahagiaan untuk mereka di hari Kartini tahun ini. Ada permainan anak-anak yang bisa mereka rasakan. Ada buku cerita yang bisa mereka mereka pinjam tanpa harus bayar. Ada dunia anak-anak yang bisa mereka resap. Mereka harus tau, jalanan bukanlah satu-satunya halaman bermain.

Ini bukan penggalangan. Dengan atau tanpa bantuan, kami akan tetap bergerak. Aku hanya membuka barangkali ada diantara pembaca yang mau menyumbangkan apapun. Entah uang, buku, alat tulis, mainan, atau apapun untuk anak-anak di sana. Dengan catatan, kami tidak bisa menerima sumbangan besar. Sumbangan yang kami rasa kebesaran, akan kami tolak. Ini acara hura-hura, kami tidak bisa bertanggungjawab untuk donasi besar. Hubungi aku di pungkyprayitno(at)gmail(dot)com untuk donasi. Tenang, sumbangan uang gak akan diberikan mentah-mentah. Mereka butuh kepompong, bukan mendadak kupu-kupu.

Purwokerto, 10 April yang diramaikan hujan, 2014

Acara senang-senang ini akan dilaksanakan beberapa hari setelah hari Kartini. Hari perjuangan. Kami sadar mereka adalah pejuang. Karena kepada mereka, negeri ini akan diwariskan.

29 komentar :

  1. Good Idea, Makandi! Aku ingin sumbang sedikit rupiah utk beli crayon, buku gambar atau alat tulis boleh ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh bangeeeet... nomor rekeningnya mau aku kasih via email atau gimana? ^_^

      Hapus
    2. via email ke alaikaabdul@gmail.com ya, Mak. :)

      Hapus
  2. aku mau ikutan, boleh? pengen ketemu mereka,

    BalasHapus
  3. Menghibur padahal tuh mbak dan kreatuf yang joget ala cherybelle

    BalasHapus
    Balasan
    1. kreatif sih.. tapikan malah jadi indikasi kalau mereka kekurangan 'bermain' :)

      Hapus
  4. inspiratif mbk,sukses buat acaranya :)

    BalasHapus
  5. Nama kampungnya kok sama denganku mbak Pungky... Sukses yach, acaranya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe itu dari nama jalan. Kampungnya ada di jalan Rahayu. Hihihi bisa pas ya :D

      Hapus
  6. Sukses buat acaranya ya Mak Pungky.. Kalo perlu bikin kompetisi nari buat mereka hehe
    *joget cherrybelle

    BalasHapus
  7. Ide yang bagus, mbak. semoga bisa banyak terkumpul untuk memenuhi dan melengkapi kecerian mereka. sukses untuk acaranya :)

    BalasHapus
  8. mak jiwo aku boleh ikutan kan yahhh.....akujapri yaaa

    BalasHapus
  9. mantap mak...hura-hura yang bermanfaat... :)

    BalasHapus
  10. Pungky, kamu selalu keren. Semoga acaramu sukses dan selalu bermanfaat :)

    BalasHapus
  11. semoga acaranya sukses, Mak. hanya bisa bantu doa :))

    BalasHapus
  12. Like this :) Keren, Pungkyyy

    BalasHapus
  13. Kak, mahasiswa yg kantongnya nggak tebel boleh ikut nyumbang tapi cuma dikit nggak? :( *minder* kalo boleh, kirimin yaaa no.reknya ke emailku hehehe

    Semoga sukses acaranya kak ♡ pengen ikutan seandainya acaranya di Jakarta hehe

    BalasHapus
  14. bagus sekali nih idenya, tapi saya belum bisa nyumbang nih. Bantu doanya aja ya

    BalasHapus
  15. ah .. idemu itu, dik kandi
    Saya ikutan, minta no rek ke sini ya arostiani9@gmail.com
    Nuhun

    BalasHapus
  16. Pungky, semoga diberi kemudahan, kelancaran, dalam pelaksanaan acara ini, ya.

    Tlg emailkan noreknya, Pung. Salam senyuuum ceriaa. . .

    BalasHapus
  17. kepada mereka kita dikaruniai nikmat yang tak terhingga....

    BalasHapus
  18. aku suka banget dengan acara spt itu,,pengen ikutan...

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...