Selasa, 26 Januari 2016

Kesederhanaan Selayar


Tawa staf Dinas Pariwisata kepulauan Selayar meledak saat aku melontarkan pertanyaan "Di Selayar, ada jalan raya?". Ibu berkerudung biru yang sampai sekarang aku lupa namanya (maap ya buuuu), sambil terkekeh bilang ke teman yang duduk di sebelahnya.

"Mbak Pungky ini tanya, ada jalan poros di Selayar?"

Aku menunggu jawaban dengan setia, teman disebelahnya-yang juga staf Dinpar Kepulauan Selayar-bukannya menjawab, malah ikut tertawa geli. Aku emang lucu banget, bu, semua juga tau. Tapi mbok ya dijawab dulu, baru ketawa lagi. Tak berselang lama, mobil kami merapat di tepi landasan pesawat, dekat bandara Aroeppala.

"Ayo mbak turun.."

"Ngapain kita di landasan pesawat?"

"Lho katanya mbak Pungky nanya jalan poros di Selayar.."

"Ha ... ?"

***


Aku bisa sampai ke Selayar adalah karena undangan dari dinas pariwisata setempat. Semuanya berawal dari buah sillaturrahmi yang gak pernah aku duga. 

Hari pertama, kami dibawa mengelilingi pulau Selayar dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Semuanya menarik, sangat menarik. Tapi yang paling sukses menyorot perhatianku adalah kesederhanaan pulau maha-seksi ini.

Mobil kami berhenti di jalan yang hanya seukuran satu mobil, diapit pemukiman warga dengan bangunan tinggi-tinggi khas Sulawesi Selatan. Ibu berkerudung biru yang sampai sekarang aku masih lupa namanya, bilang kalau kami akan mengunjungi sebuah museum. Mana museumnya? Sebelah kanan kami adalah rumah warga, sebelah kiri sekolah, dan depan kami semacam bangunan kecil mirip posyandu desa.

Seorang nenek menghampiri kami, tersenyum dan menuju pintu bangunan kecil mirip posyandu. Memakai kain jarit dan tanpa alas kaki. Dalam diam, dia mengambil kunci dari selipan jaritnya, membuka pintu bangunan kecil mirip posyandu lalu berbalik badan. Tersenyum pada kami untuk kedua kalinya.


"Mari mbak.. Silakan masuk.."

Ibu berkerudung biru yang sampai paragraf ke-enam ini masih lupa namanya, mengembangkan satu tangannya. Mempersilakan aku masuk.

"Ini tempat apa? Katanya kita mau ke museum?"

"Ini museumnya.. Di dalam ada meriam kuno dan jangkar raksasa. Silakan.."

"Ha ... ?"

Dengan pose mangap takjub tapi cantik, aku masuk ke dalam. Beneran lho, semacam bangunan kecil mirip posyandu ini ternyata museumnya! Hanya ada lima pajangan di dalam sini, dua jangkar raksasa dan tiga meriam kuno. Soal museum ini akan aku bahas di lain cerita. Selesai mengambil gambar di dalam, aku menuju teras dan memperhatikan lingkungan sekitar museum. Beberapa warga berdiri di depan rumahnya, 'menonton' kami. Aku mengangkat kamera dan mengangguk senyum kepada salah satu dari mereka. Maksud hati mau ambil potrait, apa daya malah nyengir trus tutup muka dan masuk ke rumah. Ya nasib.


Selesai mengeksplorasi museum, kami menuju destinasi lain. Di tengah perjalanan, mobil tiba-tiba berhenti di tengah landasan pesawat dan kami diminta turun. Pemberhentian ini adalah jawaban atas pertanyaanku. Terjawab sudah, inilah dia satu-satu jalan raya di pulau Selayar, landasan pesawat terbang.


Di Jawa, kita mungkin biasa menyeberangi lintasan kereta api. Di Selayar, lebih keren dan uhuy, nyeberang lintasan pesawat. Kata mas Adie, salah satu anggota rombongan, mungkin kalau kita lagi nyeberang dan ada pesawat, pesawatnya yang nge-rem. Hahahahaha

Eh serius, gimana kalau ada pesawat? Santai, penerbangan di Selayar cuma ada tiga kali seminggu. Jadi datang dan perginya pesawat menjadi salah satu momen istimewa di pulau ini, ada peringatan khusus di sepanjang landasan dan warga Selayar sendiri sudah hapal. Yakali narsis-narsis bareng pesawat lepas landas, dikata ripleys believe it or not.


Purwokerto, 12 Januari banyak nyamuk, 2015

Pulau Selayar memberikan aroma tersendiri buatku, perpaduan antara seru, seksi, dan sederhana. Kearifan Indonesia yang hangat sekaligus menyenangkan.

42 komentar :

  1. Sederhana banget ya sampe ga ada jalan rayanya. Teguran halus untuk pemerintah setempat :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, malah sama sekali bukan teguran sih kalo menurutku. Karena gak adanya jalan raya di Selayar, lagi lagi menurutku, adalah bagian dari kesederhanaan dan kearifan Selayar itu sendiri. Daya tarik dan itu menyenangkan. hihihi :D

      Hapus
  2. Aih beruntungnya dikau bisa sampai Selayar gratis. Selamat meng-explore bumi timur Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.. hehehe iya, bumi timur Indonesia indah banget yaaa :D

      Hapus
  3. gimana rasanya ditontonin orang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seruuuu.. pengalaman yang belum tentu bisa dirasain di tempat lain :D

      Hapus
  4. Selayar... konon pantainya super indah2 ya mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget mas... indah buangeeeet nget nget

      Hapus
  5. kenapa mbak gak narsis bareng pesawat :D

    BalasHapus
  6. mbak...sekarang udah 2016 lho :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. OHIYA. hahahahaha segera diganti. makasih yaaa xD

      Hapus
  7. ceileh di pesawat aja narsis nih mahmud cantik

    BalasHapus
  8. Foto paling bawah itu pose apa sih beb? ;)

    BalasHapus
  9. Foto paling bawah itu pose apa sih beb? ;)

    BalasHapus
  10. Tetap asik tapi walaupun jalan poros ya mbak...senangnya yg jalan2 terus...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa, malahan kesederhanaannya yang bikin menyenangkan dan pengin balik lagi hihihi

      Hapus
  11. wkwkwk ngk kebayang kalau becandanya mas adie kejadian. Pesawatnya ngereem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaha jangan dibayangin pehlis xD

      Hapus
  12. Kalau denger selayar aku jadi inget Ati Selayar
    artis dangdut

    walaupun bukan penggemar dangdut

    dan nggak nonton dangdut

    hhahahahhaa

    Selain ke muesum dan landasan pesawat kemana aja pas di Selayar kak pungk??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahaha selama di sana banyaaak banget yang nonton Ati xD

      Nanti yaa di postingan yang lain aku cerita hihihi

      Hapus
  13. Nama Adie emang selalu heits ya di mana2. Tapi Adie yang ketemu di Lombok kayaknya lebih heits dari semuanya. Begitu kan?

    *lalu diundang juga ke Selayar* #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adie yang ketemu di Lombok? yang suka lari lari centil itu? xD

      Hapus
  14. Kok saya ga di undang juga? hahaha. denger-denger sih di selayar lautnya masih alami. itu kata guru saya yang kebetulan lahir di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa betul, masih bagus, karangnya cakep, belom ada yang injek injek *EH*

      xD

      Hapus
  15. Welaaah. . .lenggang banget. Ngga was was mau narsis nek seminggu udah jelas 3x penerbangan. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa buat bikin video klip inih.. video klip pepita xD

      Hapus
  16. Lintasan pesawatnya bisa dipake latihan driving #eh ;D

    BalasHapus
  17. Wkwkwkkk jalan rayanya cuma itu. Tp beneran deh memang spt itu diluar Jawa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tapi malah yang kayak gini menyenangkan yaa.. gak riweuh, gak macet, gak polusi hihi :D

      Hapus
  18. Mudah mudahan pas nanti di postingan yang bahas tentang museum, udah inget sama nama ibu berkerudung biru itu ya mbak :))

    BalasHapus
  19. Seru banget ya nyampe ke sana, dan posyandu itu mikin miris eh museum ding :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi museum yang sederhana itu lah sisi menarik dari Selayar. Gak ada di tempat lain yang begitu hihihi

      Hapus
  20. justru kita mencari yang sederhana tapi bikin nyandu seperti Selayar ini pung :)

    BalasHapus
  21. Coba masuk landasan kyk gtu di Soetta, digiring satpam mbak hihihi
    TFS Mbak Pungky :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung diamankan dikira orang gak waras hahahahaha

      Hapus
  22. Ooh.. nahan kentut.
    Kirain nahan BAB. Kebelet.
    Hahahaha...
    Eh tapi benar lho, jadi desa unik yaa. Tanpa jalanan aspal
    Yang pasti CO2 pasti kurang di sana, betul tak?

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...