Jumat, 15 Juli 2016

Menjaga Cahaya Langit Alpheratz


Ada kalanya hidup terasa menjebak. Kita dihadapkan pada kenyataan yang tak pernah kita pilih. Mimpi-mimpi yang harus berhenti jauh sebelum titik capainya. Dijatuhkan saat baru belajar terbang. Bahkan hati yang terpaksa patah tanpa pernah tau di mana mendapatkan perekatnya kembali.

Ada saatnya hidup terlalu membahagiakan. Kita dicemplungkan dalam jurang rezeki yang seolah-olah tak punya tepi. Hal-hal terbaik yang datang serba tau-tau. Harapan-harapan yang dikabulkan serba tepat. Kesempatan bagus yang tinggal hap. Semua berjalan sesuai doanya, sesuai apa yang kita rapalkan dalam katupan tangan semalaman meminta.

Di saat-saat seperti itu, biasanya aku memandang ke langit. Tempat sangat luas itu, adalah tempat aku pulang sejauh-jauhnya aku 'pergi'.
Pada langit, aku mengantar rinduku untuk mama dan papa. Tiket mudik selalu lebih mahal dari air mata. Maka agar tidak terlalu kecewa, kuaminkan kata orang tentang "Selama masih di bawah langit yang sama, berarti masih dekat". Tangis rindu yang aku uapkan, kupercaya akan sampai ke tujuannya dan menjadi satu-satunya penyembuh lara.

Pada langit, aku pernah menitipkan sebuah nama yang dalam hidup, tak pernah bisa aku miliki. Kujadikan ia bintangnya, agar selalu bercahaya dan berbahagia supaya patah hatiku tak sia-sia. Bersama udara, kuuapkan doa supaya dia bahagia siapapun pendampingnya.

Pada langit, kuceritakan seluruh titik terendahku menjalani hidup. Luka-luka yang tak punya obat, lelah-lelah yang sulit reda, hingga ketakutanku akan hidup itu sendiri. Aku meyakini tempat luas itu masih menyimpan baik doa-doa yang aku rapalkan silam. Menjaganya hingga Gusti memperbaiki titik-titik rendah itu, menjadi titik-titik balik.

Pada langit, kusampaikan kabar-kabar dari setiap perjalanan. Indahnya Pulau Selayar, lezatnya kuliner Lombok, sujud syukur di Phi Island, lompat bahagia di Twin Tower, pagi paling syahdu di Sembalun, hingga perjalanan tanpa rencana ke Semarang demi lunpia dan bertemu mbak Uniek. Kesempatan-kesempatan emas yang tak pernah aku kira akan mengisi sebagian hidup.

Pada langit, aku mencatat berkah-berkah yang sederhana namun begitu berarti. Magic jar yang tak pernah kosong, tempat tinggal yang selalu utuh, mata yang masih terbuka di setiap pagi, bensin motor yang belum pernah kering, pekerjaan tetap yang halal, sampai hela nafas di setiap detik setiap waktu.
*** 

Karena padanya aku menitip sangat banyak hal, akhirnya langit menjadi hal yang selalu kusimpan. Biasanya dalam kepala, beberapa kali dalam bunga tidur, sisanya dalam galeri ponsel. Kuabadikan ia, beserta sinarnya. Kusimpan, kujadikan teman hidup, kukenalkan pada banyak orang.

Supaya tak tertukar dengan milik orang, tak pula harus berebut dengan semesta, kunamai dia Alpheratz. Bintang paling bercahaya di rasi Andromeda. Dalam mitologi Yunani, Andromeda adalah perempuan yang dikorbankan oleh orang tuanya sendiri. Ia diikat di batu, sampai akhirnya diselamatkan oleh Perseus. Simbol kepasrahan, ketidakberdayaan, namun kekuatan dan keyakinan untuk tetap bertahan. Dalam konstelasi luar angkasa, Alpheratz terletak di area kepala tubuh Andromeda. Sang Alpha.

Lalu aku menjadi perempuan yang sering mengangkat tangan ke udara, menadahkan ponsel dan memotret. Kapan saja, dimana saja. Merogoh kantong celana, mengambil ASUS Zenfone kesayangan, mengaktifkan screen locked-nya (sekalipun si ponsel masih dalam saku), menyalakan kameranya, melayangkan tangan ke atas, lalu menangkap langitku.
Aku dan Alpheratz di Lombok, 2015. Pic courtesy of Icha Maisya

Barangkali aku memang harus berterimakasih pada Gogo, nama kesayangan untuk ASUS Zenfone milikku. Dialah penangkap Alpheratz terbaik, yang selalu ada merekam cahaya langit. Setiap perjalanan, setiap tangis, setiap tawa bahagia, setiap cerita, setiap aku bertemu Alpheratz, dialah Gogo yang selalu digenggamanku. Yang menangkap dan menjaga cahaya terbaik langitku. I can see at the speed of light, with my Zenfone.
***

27 komentar :

  1. Ahhh puitis banget ini. Juara kamu pungky buat mengklepek-klepekkan hatiku.




    Sayang aku bukan yg bikin GA

    BalasHapus
  2. Daftar jadi member fansclubnya mbak pungky dimana ya? :D

    Selalu suka sama ide-ide tulisannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyiaaaaa... enggak punya fansclub atuh da aku mah cuma remahan.




      Remahan emas 24 karat xD

      Hapus
  3. Aku suka melihat langit, apalagi langit yang biru cerah. Rasanya selalu damai memandang langit lama-lama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa asal gak lagi terik, aku hobi banget memandang langit :D

      Hapus
  4. Saya juga suka dengan birunya langit Mbak.. Dan selalu menikmati keindahannya meski harus berlama-lama menatapnya :)

    BalasHapus
  5. tulisannya keren Mba Pungky *jempol*
    juara ini mah, juara..Amin

    BalasHapus
  6. Subhanallahh... langitnya cantikk banget mbak..
    sukses tulisannya bagus :D

    BalasHapus
  7. Mba Pungky tulisannya keren pake bingits ih... Semedi dimana mba? Hihi.....*canda

    BalasHapus
  8. Dan saya pun selalu membisikkan gendawa rindu ke langit biru :)... Bon courage yaaa puuung... Ditunggu alpheratz di pojok NYC :*

    BalasHapus
  9. Aku termehek2 sama bahasamu nih pung....mimisaaaannn

    BalasHapus
  10. Mba pungky emang paling keren kalo suruh hubung-hubungin sesuatu. Selalu keren sudut pandangnya, ih. Salute!

    BalasHapus
  11. Puitisssnya.... Yang nulis romantis deh kayaknya... 😀

    BalasHapus
  12. foto2 langitnya bagus2 banget :)

    BalasHapus
  13. Awww...so touching. Aku suka langit berawan. Dan di Jakarta ini satu hal yang aku rindukan: langit biru

    BalasHapus
  14. kolaborasi antara kamera dan photographer yang sangat amazing!

    BalasHapus
  15. bener-bener kerenn, kasih tips memotretnyan juga dong

    BalasHapus
  16. Aku salah satu fans foto2mu.

    BalasHapus
  17. Wah, Mbak, tulisannya beda dari yang lain. Aku suka. Apa yang pean sampaikan pada langit, itu juga aku alami, mbak. Dan yang ini membuatku baper :

    “Pada langit, aku pernah menitipkan sebuah nama yang dalam hidup, tak pernah bisa aku miliki. Kujadikan ia bintangnya, agar selalu bercahaya dan berbahagia supaya patah hatiku tak sia-sia. Bersama udara, kuuapkan doa supaya dia bahagia siapapun pendampingnya.”

    BalasHapus
  18. Aduuuh bacanya melted melted kaya mozarella soalnya puitis ��

    BalasHapus
  19. poto langit yang keren....
    salam kenal...

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...