Pungky Prayitno @ 2013. Diberdayakan oleh Blogger.

Zenfone Live, Karena Perempuan Berhak Merasa Cantik


Kalo kamu nggak bisa belajar menghargai orang lain, minimal jangan belajar menyakiti. Setuju gak? Eh hubungannya apa sama foto?
 
Jadi gini, banyak perempuan yang butuh hape dengan kamera bikin cantik kayak gini. Kadang bikin jauh banget dari aslinya, kulitnya jadi mulus mencling bagai sang surya menyinari dunia. Jadi lebih tirus, lebih putih, bibirnya lebih merona cipokable padahal aslinya gak gitu. Sebutlah Beautyplus, Beautify, atau fitur Beautylive kayak di hape ini, digandrungi sama banyak perempuan.

Kenapa? Karena kebanyakan kita lebih memilih menyakiti daripada diam. Emang kalo orang jerawatan harus dikomen ya, ih jerawatnya serem banget gradagan. Emang kalo cewek kulitnya gelap kenapa sih? harus ya dikomen "di tempat gelap jangan ketawa nanti giginya doang keliatan". Emang kalo cewek pipinya tembem kenapa, trus kita yang rugi? Emang kalo jidatnya seluas angkasa bikin hidup kita susah, jadi harus dinyinyirin? Kan enggak.

Menanti Zenfinity




Satu siang yang terik di Jakarta, sebuah pesan whatsapp mendarat ke hapeku.

"Jadi datang mba?"
"Jadi, om. Ini lagi di uber, bentar lagi sampe"
"Oke, hati-hati ya.."

Aku senyam senyum sendiri bacanya. Gimana enggak, pesan itu datang dari om Firman, head of public relation ASUS Indonesia. Waktu itu, aku lagi dalam perjalanan ke acara launching notebook ASUS yang harganya 95juta itu lho. Aku senyum karena ya ampun, om Firman kan pasti lagi sibuk banget ngurusin event, lagi ribet pakuwet di lokasi dan masih sempet-sempetnya nanya aku jadi datang atau enggak.

Buat aku ini penghargaan kecil yang mewah banget. Mereka memperlakukan blogger nggak sebatas relasi media atau yaa sekedar buzzer tukang promosi yang bisa dibayar lalu kelar. Kami sudah seperti teman, seperti sahabat, bahkan sekarang rasanya kayak keluarga. 

Ini Tentang Mangrove Tapak dan Semarang


Photo taken by Dimas Suyatno

"Beneran ini kita masih di Semarang? Ya ampun bagus banget tempatnya!"

Aku duduk setengah oleng di atas perahu, menyesap aroma asin khas pesisir dan bau amis air payau. Antara percaya dan enggak, hutan mangrove yanga aku masuki waktu itu, berada di tepi kota Semarang. Aku baru tau kalau Semarang punya hutan mangrove, lebih baru tau lagi ternyata tempatnya indah. Rimbun dan asri.

Iya memang sekuper itulah aku sebenernya, makanya iyain aja kalau lagi ngaku-ngaku gaul. Biar cepet.

"Di sini ada buaya pak?"

Tanyaku pada bapak yang menahkodai perahu kami. Ya kali kan ternyata selain menyimpan tempat indah begini, Semarang juga menyimpan Crocodylus Porosus. Kan jadi lawak kita susur mangrove bareng Yaya (istilah gemes untuk buaya). Si bapak cuma senyum, tanpa jawaban. Mungkin dalam hatinya dia bertanya-tanya, ini ngapain dedek-dedek cari buaya.

Paragraf di atas nggak penting emang, cuma pengen aja bisa menyebut diri sendiri dengan: dedek. HAHA Biarin aja biarin.

Nikmati Malam di Banjarmasin dengan Mengunjungi 6 Objek Wisata Ini

Sumber foto: arrisalah.net
Belum pernah ke Banjarmasin sih, tapi pengin banget lah! Secara Kalimantan itu salah satu destinasi impianku, walau pernah ke Pangkalan Bun, tapi rasanya belum puas kalau belum eksplorasi seluruh penjuru Borneo. Banyak pengin banget emang si pungky, tapi apa sih yang enggak mungkin? Bisa sampai ke Pangkalan Bun aja aku modalnya cuma mimpi, jadi boleh kan boleh dong kalau aku memimpikan seluruh Kalimantan juga?

Nah, di Banjarmasin, katanya nih, ada banyak keseruan yang bisa dinikmati saat malam hari. Karena apa? Karena main-main ke pasar terapung tentulah sudah mainstream, love nya nggak bakal greget di instagram. Bhahahahaha dasar traveler masa kini, yang dipikirin love doang 😂😂😂

Yuk, kita intip-intip, apa yang dinikmati saat malam hari di Banjarmasin!

Arwan, Icaruz dan Blekok, dalam Megah Meriah Semarang Night Carnival 2017



Manusia bersayap itu berjalan dengan anggun, gagah namun megah. Paduan warna putih dan emas yang membungkus tubuhnya, serta tongkat di tangannya, membuat dia terlihat memesona tersorot lampu karnaval.

Agustinus Arwan namanya, salah satu peserta defile burung blekok dalam Semarang Night Carnival 2017. Kostum seberat 8 kilogram nggak membuat dia kehilangan semangat untuk berjalan kaki sejauh 1,3 kilometer malam itu.

“Saya bangga. Saya nunggu kesempatan ini sejak tahun lalu dan baru kesampaian sekarang. Ini kostum saya buat sendiri, saya desain sendiri. Jadi saya bangga dan senang memakainya”

Arwan, penuh semangat, bercerita kepadaku.