Pungky Prayitno @ 2013. Diberdayakan oleh Blogger.

Perkampungan Tua Bitombang, Secuil Kemesraan Kepulauan Selayar




Matahari lagi ganteng-gantengnya waktu jalan yang aku tapaki mulai menanjak dan membawaku ke perkampungan tertinggi di Kepulauan Selayar. Sekalipun terik, aku gak bisa menolak keinginan untuk menengadahkan kepala.

Beberapa meter dari batu besar yang menjadi ‘gerbang’ masuk, aku dikepung rumah-rumah tinggi khas suku Bugis. Bedanya, yang ini tinggi banget. Beneran tinggi sampai-sampai mataku perih karena seperti menantang matahari. Aku menarik napas dalam, senyum-senyum norak dan bilang bangga sama diri sendiri.. akhirnya sampai juga.

“Selamat datang di Bitombang, mbak. Perjalanan jauh, ye?”

Seorang bapak berbalut kaos dan kain sarung menyambutku dengan senyum. Kepala desa. Kata ye di akhir kalimatnya, mengisyaratkan bahwa beliau asli Selayar. Seraya mengembangkan sebelah tangan, aku diajak naik ke bukit yang lebih tinggi, menuju pintu masuk rumah-rumah yang mengusik rasa penasaranku sejak tadi.

Perkampungan Tua Bitombang, namanya. Desa adat tertua di kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Demi sampai ke sini, aku harus melewati 21 jam perjalanan lintas 3 kota dan tidur ngemper di lantai bandara segala. Sendirian. Gak apa-apa, kan memang gitu yang namanya pencapaian. Kalo kata pepatah mah, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Walau kadang jadinya malah bersakit-sakit dahulu, ditikung orang kemudian. Pungky!!!
 
Di sini, berjajar rumah panggung khas suku Bugis yang tingginya mencapai 10 – 20 meter. Tapi, nggak perlu naik tangga untuk masuk ke dalamnya. Karena berada di bukit berbatu yang permukannya nggak rata, bagian depan rumah cuma setinggi 2 – 3 meter aja.  
 


Uniknya lagi, rumah-rumah panggung ini berusia lebih dari 100 tahun. Wow ya. Saking tuanya, kayu-kayu penyangga sudah diselimuti lumut, atau tai anging dalam bahasa setempat. Aku ngakak pas pertama denger tai anging, ya ampun otakku emang kotor banget.
 
Enggak takut rapuh? Nggak, soalnya kayu yang dipakai adalah bitti. Salah satu jenis kayu yang banyak tumbuh di sekitar kampung, yang katanya memang punya kualitas dan kekuatan terbaik. Jadi kalau kamu terbiasa bersakit-sakit dahulu ditikung orang kemudian, mungkin harus banyak-banyak ngemil kayu bitti, biar setrong. 
 
Pun dengan pallanga, atau batu-batu yang menyangga para tiang, dipercaya ikut menjaga kekokohan rumah-rumah tersebut. 
 


Sekalipun listrik sudah lama masuk, suasana desa adat ini tetap sunyi dan syahdu. Aktifitas yang terlihat adalah warga bercocok tanam, menjemur hasil kebun, atau anak-anak yang sedang melongok di jendela sambil menyungingkan senyum. Jalanan juga sudah beraspal, tapi sama sekali nggak mengurangi keaslian bebatuan yang membangun alamnya. Asik deh, betah lama-lama di sini.
 
Aku bertamu ke salah satu rumah, merasakan sendiri bagaimana berada di bangunan setinggi 20 meter. Sang pemilik rumah, seorang bapak yang juga pakai kain sarung dan kaos, memamerkan bagian atap rumahnya yang penuh dengan hasil bumi. 
 


“Di sini, kami jarang beli. Semuanya tanam sendiri, makan kami dari hasil tanah sendiri,” jelasnya seraya menunjuk bangga tumpukan jagung yang ia simpan.

“Hasil tanah sendiri, termasuk bahan baku membuat rumah, ya, pak?” tanyaku penasaran.

“Iye, itu kenapa rumah kami kuat-kuat, karena kami percaya sama hasil alam,” jawabnya mantap.

Penduduk Perkampungan Tua Bitombang kebanyakan menghabiskan hidupnya untuk bercocok tanam. Bercocok tanam beneran ya, bukan bercocok tanam: kalau udah cocok langsung ditanam, sayang mah bisa belakangan. 
 
 
Hasilnya tanamnya, dipakai buat menyambung hidup sendiri. Enggak, nggak cuma sekedar buat makanan pokok, tapi sampai ke obat-obatan, pakan ternak, dan kayu-kayu untuk bangun rumah, semuanya hasil kebun sendiri.  Secara alam, kampung ini memang dikepung hutan yang lokasinya berada di dataran tinggi. Tanahnya subur banget. Realita dari lirik lagu "Tanah kita tanah surga..". Jadi barangkali kamu sudah lelah mencari jodoh, tanam aja cintamu di sini, siapa tau tumbuh pohon jodoh saking suburnya. Kan asyik jodoh tinggal metik. Lukata jambu aer.
 
Napasku terasa lebih segar di sini, setiap hirupnya adalah nyaman dan menyenangkan. Soalnya, selain aneka vegetasi yang mengepung, di sini nggak banyak kendaraan bermotor yang lalu lalang. Cuma ada beberapa milik warga untuk sarana pergi ke kota.

Hubungan yang mesra dengan bumi dan alam, menciptakan kearifan tersendiri di kampung ini. Beriringan dengan rumah panggung yang kuat hingga tua, penduduknya juga banyak yang hidup melewati usia 100 tahun! Banyak lho, nggak cuma satu dua orang gitu. Wow ya wow. 
 
Semacam muncul keyakinan, bahwa keharmonisan hidup bersama bumi, dapat mengalirkan energi baik yang memperpanjang usia. Ikatan yang kuat antara manusia dengan tanahnya. 

 
Purwokerto, 1 ramadhan, 2017

Tujuh kilometer dari kota Benteng, inilah Perkampungan Tua Bitombang. Menyambut siapapun yang datang dengan senyum asri pepohonan, udara yang segar, hubungan manusia dan bumi yang mesra, serta kearifan khas Indonesia. 

***

Semua foto adalah milik pribadi. Dilarang menggunakan tanpa ijin.


9 komentar

  1. Ngebayangin 21 jam total perjalanan itu aku cuma mau bilang, "keras sekali perjuangan kesenanganmu, kak." hahaha

    BalasHapus
  2. ga usul ke kadesnya, dibuat pengadaan lift gitu?

    BalasHapus
  3. Pungky mah selalu kece destinasi travellingnya. Dijabanin juga 21 jam. Aku udah give up kayaknya kayak gitu kalo sendirian:))
    Kamu mah tough girl! :)))

    BalasHapus
  4. ada alasan kenapa rumahnya setinggi 20 meter Pungky>
    keamanan anak2 kecil gimana ya..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama kayak rumah panggung suku Bugis yang lain, mba. Dulunya untuk menghindari serangan binatang buas. Ada filosofi tentang manusianya juga.

      Kalo anak-anak, mereka sejak lahir hidup di sana, jadi pasti sudah terbiasa dan sudah tau 'jaga diri' di rumah-rumah itu :)

      Hapus
    2. Kenapa jauh lebih tinggi dari rumah suku bugis pada umumnya, itu karena alamnya perbukitan yang penuh dengan batu-batu besar. Jadi supaya rumahnya bisa rata, ya harus lebih tinggi dari bukit-bukit dan batu-batu itu :)

      Hapus
  5. Manusia yang dekat dengan alam rata2 umur panjang ya...
    ceritanya menarik^^

    BalasHapus
  6. Sepertinya kalo aku tinggal di rumah panggung setinggi ini gak akan punya fobia ketinggian ya. Sekarang mah naik meja aja ngeri

    BalasHapus