Pungky Prayitno @ 2013. Diberdayakan oleh Blogger.

Perjalanan-perjalanan yang Menyembuhkan

Nusa Lembongan. Difoto oleh @satyawinnie

Luka masa kecil itu ternyata sulit hilang. Mengendap dalam setiap detik hidupku, setiap hela napasku. Mungkin ini yang mereka sebut trauma, mungkin ini yang mereka bilang, sekali gadis kecil disakiti, maka seumur hidup ia akan menyimpan perihnya. Dalam diam, bersama tangis yang tanpa suara, masa lalu itu pernah menyayat nadi kiriku, pelan namun dalam. Meninggalkan bekas yang kubawa hingga hari ini.

Menikah lalu melahirkan Jiwo, anakku, aku pikir akan jadi jalan keluar terbaik untuk semua luka-luka yang kupendam. Membangun rumah tangga bersama laki-laki yang rela menukar hidupnya untuk kebahagiaanku, novel-novel itu bilang, begitulah akhir bahagia dari kisah tragis seorang gadis. Ternyata aku salah. Dia datang kembali, dalam wujud post partum depression. Depresi paska persalinan yang nyaris saja membuat aku menghabisi nyawaku sendiri, lagi.


Aku kecewa. Ternyata menikah dan menjadi ibu, tidak menyembuhkan apapun. Luka itu mengganas. Bukan saja dia menambah sayatan pada nadi kiriku, yang lebih dalam, dan lebih pedih, namun juga berhasil membuatku membekap Jiwo dengan bantal. Tahun 2013 waktu itu, Januari, kalau saja ibu pengasuh tidak segera datang dan membuatku tersadar, barangkali namaku akan muncul di surat-surat kabar sebagai ibu kandung yang tega membunuh bayinya sendiri.

Post partum depression mengalahkanku telak. Dokter bilang, ibu dengan riwayat depresi, punya kemungkinan besar terserang baby blues syndrome tingkat lanjut. Di situlah aku waktu itu, tidur di kolong kasur karena takut disapa malaikat maut. Tidak mandi berhari-hari, karena khawatir saat memejamkan mata ketika keramas, kubuka mataku dan sudah berada di neraka. Kematian menjadi teman sekaligus musuh yang begitu menakutkan.

Puncaknya, aku melempar suamiku dengan gelas kaca, tepat di kepala. Kalau aku harus sakit, maka dia juga. Aku marah, tidak adakah pertolongan untuk apa yang aku alami? Setelah aku menukar nyawa untuk melahirkan anakku, setelah 22 tahun aku hidup dalam bayang-bayang gelap masa lalu, inikah akhir dari semuanya? Depresi paska persalinan, duhai hidup?

**

Bali, Januari, 2015. Aku tidak mungkin bisa lupa satu langit sore di pantai Seminyak, yang membuatku nyaris menangis menjerit. Kaki yang terendam air laut, menyerap energi dari pasir yang aku injak, mengalirkan sesuatu ke tubuhku yang terasa sama sekali baru, entah apa. Aku pergi, jauh dari rumah, jauh dari hidupku, tapi rasanya malah seperti pulang. Entah pada definisi rumah yang mana. Hanya yang aku tau, ternyata laut, dan langit, begitu hangat, begitu mendekap. Dan aku ketagihan.

Tiga hari di Bali itu sungguh mengubah hidupku, sekembalinya dari sana, aku menjadi ibu yang jauh lebih bahagia untuk Jiwo. Keluarga kecilku lebih ceria, hidup lebih hidup. Ternyata berpergian memberiku kepulangan, rumah dalam definisi asing, yang aku cari-cari selama ini; bertemu aneka manusia, melihat langit biru, mencemplungkan diri ke laut, mengenal keasingan, berpelukan dengan kisah-kisah orang, menemukan diriku yang hilang karena masa lalu. Sungguh kewarasan yang aku tunggu-tunggu.

Di luar percayaku sendiri, perjalanan itu adalah karena aku seorang blogger. Aku menulis, dan sebuah perusahaan mau menukar itu dengan liburan 3 hari 2 malam di Pulau Dewata. Lalu aku kembali pada suami dengan sebuah katupan tangan, memohon restunya, bahwa perjalanan kali itu adalah awal dari semuanya. Aku, akan berjalan lebih banyak, lebih jauh. Dia mengangguk, menyetujui istrinya menemui kepulangan-kepulangan yang lain.

Tapi, biaya dari mana untuk sering berpergian? Kami bukan keluarga kaya, pun aku adalah ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Menabung untuk membiayai perjalananku dengan memotong uang keluarga, sama sekali bukan hal bijak karena kondisi keluarga kami masih sangat rapuh. Paska depresi itu, simpanan kami habis hanya untuk memulihkan aku.

Maka dengan sekali lagi katupan tangan, aku memohon dengan baik. Kali ini bukan pada suami, tapi blog. Ya, sedikit gila kedengarannya, tapi aku berbicara dengan blog yang sedang kalian baca ini. Memintanya untuk menemaniku menjemput kewarasan itu, lagi. Bali sudah membuktikannya, aku tau aku punya jalan. Lalu demi memanen itu semua, aku, bertransformasi menjadi seorang blogger yang banyak menulis cerita perjalanan.

Gusti maha mendengar doa-doa, upayaku membuahkan hasil. Tulisan-tulisan yang aku tayangkan di blog, mengantarku pada perjalanan-perjalanan yang aku impikan. Tidak menunggu lama, doa itu terwujud di tahun yang sama dengan Bali. Oleh blog ini, aku dibawa pergi ke Malaysia, Lombok, Kepulauan Selayar, hingga Thailand. Setiap mengepak ransel, aku akan tersenyum karena tau, ada rumah yang sedang menungguku datang.

Aku terus menulis cerita perjalanan. Berpergian, pada akhirnya, menjadi bagian dalam hidupku. Semua jauh lebih baik sejak itu, aku adalah Pungky Prayitno yang baru, yang bahagia dan banyak ketawanya. Tahun berikutnya, 2016, kesempatan yang datang sampai membuatku keteteran. Paling mewah, adalah doaku untuk bisa hidup di atas kelotok di Sungai Sekonyer, Taman Nasional Tanjung Puting, dibayar lunas oleh Gusti. Semoga kalian tidak keberatan kalau aku mengulang ini di sini; maturnuwun Gusti ingkang widhi. 

Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Difoto oleh @beborneotour
Perkampungan Tua Bitombang, Kepulauan Selayar. Difoto oleh Adie

Sembalun, Lombok. Difoto oleh @addieriyanto

Semua berjalan sempurna, hanya satu yang sedikit meleset; aku tinggal di Purwokerto. Tidak ada bandara di sini, pun tidak pelabuhan. Berpergian ke luar pulau, atau luar negeri, menjadi tantangan sekaligus keseruan tersendiri untuk aku. Di setiap trip, aku pasti jadi peserta yang pertama berangkat dari rumah. Karena harus ke Yogya dulu, Semarang dulu, atau Jakarta dulu. Aku menempuh minimal 4 jam perjalanan kereta api, untuk bisa sampai ke bandara terdekat.

Sepulang trip, saat peserta lain sudah sibuk mendaratkan laporan di grup pesan digital, “Aku sudah sampai di rumah, ya!”, aku menjadi orang yang harus melewati 4 jam berikutnya. Atau 6 jam jika pesawatku dari Cengkareng. Duduk di kereta, memutar musik, menunggu sampai.

Tapi sudah kubilang, ini menjadi keseruan tersendiri yang aku nikmati. Selalu ada Traveloka di ponselku, dan begitulah aku selalu baik-baik saja. Traveloka adalah partner resmi KAI, jadi tentu saja aku bisa mendapatkan tiket kereta yang aku mau dengan sangat sangat mudah. Soal ini, mari kuceritakan salah satu yang seru!

Lombok waktu itu, aku harus pergi ke sana untuk memenuhi undangan familiarization trip dari pemerintah setempat. Tiket pesawatku sudah dipesan, tapi kami -seluruh peserta trip- ragu sekali untuk berangkat sebab Bandara International Lombok Praya ditutup karena bencana. Tour leader, melalui pesan digital, bilang, “Tunggu sampai jam 9 pagi besok, ya. Kalau masih ditutup, kami akan tunda sampai waktu yang belum ditentukan. Kalau sudah dibuka, mohon teman-teman berangkat sesuai tiket masing-masing”. Semua mengiyakan kecuali aku.

Menunggu kabar bandara besok pagi? Oh, nggak mungkin. Pesawatku berangkat dari Yogya malam hari, dan tiket keretaku dari Purwokerto ke Yogya terjadwal pukul 5.30 pagi. Aku diam, suamiku mengembangkan satu tangannya sambil tersenyum, tanda mempersilakan aku untuk tetap berangkat, bagaimanapun jalannya. Malam itu, aku memutuskan untuk tidur dan mengikhlaskan Lombok. Biarlah kali ini Purwokerto memberi nasib yang kurang baik untukku. Aku terima.

Jam 8 pagi esoknya, akun twitter Bandara International Lombok Praya mengeluarkan pengumuman bahwa mereka sudah beroperasi kembali. Seluruh penerbangan dari dan ke Lombok, berangkat sesuai jadwal seharusnya. Keberuntungan selalu ada di atas ubun-ubunku, aku meyakinkan itu pada diri sendiri. Tanpa cacicu, aku melihat jam dan mulai berhitung. Satu, dua, tiga... sebelas. Ya, sebelas! Aku masih punya 11 jam sebelum pesawatku terbang, dan Purwokerto ke Yogya naik kereta hanya memakan 4 jam perjalanan. Aku masih punya waktu.

Aku bahkan sudah lupa dengan tiket keretaku yang hangus subuh hari, yang aku tau pagi itu, aku harus mulai mencari tiket kereta lain, pasti masih ada. Pasti. Kuraih ponselku, membuka aplikasi Traveloka, dan, boom, terimakasih duhai hidup, pagi itu kutemukan bahwa jalanku menuju Lombok belum tertutup. Ada kereta Taksaka yang berangkat jam 2 siang dari Purwokerto.

Aku kembali berhitung, kereta akan sampai di Yogya pukul 16.30, sedang pesawatku terbang jam 7. Butuh kenekatan luar biasa untuk meneruskan jemariku menyelesaikan order tiket di Traveloka. Aku tau di Stasiun Lempuyangan banyak ojek, dan kebut-kebutan demi kejar pesawat tentu bukan hal yang baru, kan? Haha

Bisa? Tentu saja! Begitulah takdirku bekerja. Traveloka memiliki keunggulan last minute booking, dimana aku bisa memesan tiket kereta sampai dengan 3 jam sebelum keberangkatan. Pagi itu, aku memesan tiket untuk keberangkatan siang harinya. Dan dengan segala kenekatan yang membuatku tiup poni berkali-kali, bersama restu suami yang sungguh tulus, tidak lupa abang ojek yang sampai ngepot di depan bandara Adisutjipto, aku akhirnya duduk di pesawat tepat pada waktunya. Aku sampai di Bumi Rinjani. Mendapati laut, langit, dan hidupku, terasa lebih hebat dari sebelumnya.

Pulangnya, sambil bersandar di jendela kereta, tangisku meledak. Jangan heran, aku memang mudah menangis karena haru. Sebab hidupku tidak pernah semenyenangkan itu, sebaik itu, sepulang itu. Bersandar ke jendela kereta? Oh, aku belum cerita ya, kalau di aplikasi yang sama, aku bukan hanya bisa memesan tiket dengan mudah dan praktis, tapi juga bisa memilih tempat duduk di kereta hanya dengan jari. Dekat dengan jendela, tentu saja itu yang selalu aku pilih.

**

Pantai Pinang, Kepulauan Selayar. Difoto oleh Adie
Pulau Abang, Kepulauan Riau. Difoto oleh @rinajalan

Inilah aku sekarang, seorang blogger, penulis cerita perjalanan. Mendapati diriku berdiri di banyak tempat, memeluk rupa-rupa kisah -yang sebagian jauh lebih menyedihkan dari milikku- tapi mereka tetap hidup, menyampaikan destinasi demi destinasi kepada pembacaku -lalu menyunggingkan senyum di wajah mereka, bertemu macam-macam orang hingga aku belajar memafkan, melangit, melaut, dan pada akhirnya, mengerti arti pulang.

Dawet Telasih, Pasar Gedhe, Solo
Pasar Papringan, Ngadiprono, Temanggung
Pasar Papringan, Ngadiprono, Temanggung

Perjalanan, telah mengembalikanku pada rumah, kepulangan yang asing namun membuatku jatuh cinta. Membawaku, pelan-pelan, berdamai dengan masa lalu, sesakit apapun itu. Walaupun sayatannya masih ada, lukanya masih membekas, tapi aku sudah menerima dengan ikhlas. Si biru dalam ponsel, Traveloka namanya, ah mana mungkin aku bisa lupa dengan dia, membuatku #JadiBisa menempuh mimpi-mimpi itu, sekalipun tidak ada bandara di Purwokerto, tidak juga pelabuhan.

**

Tunggu, kalau kalian pikir tulisan ini fiktif dan mengada-ada, cerita soal sayatan nadi itu pernah aku tulis di blog anakku, silakan baca di sujiwo.com, judulnya bunuh diri. Di blog yang sama, ada kisah perjuanganku melawan post partum depression, barangkali kamu mengalami gejala yang sama, mungkin itu bisa membantu biarpun sedikit. Soal perjalanan-perjalananku, klik 'Travel' di bagian header blog ini. Terakhir soal restu suami, hahaha, penting ya disemat? Nggak ih.

Kupersembahkan tulisan ini untuk para penyintas hidup, kuharap kalian tetap baik-baik saja dimanapun berada. Pasti ada jalan untuk sembuh, aku membuktikannya. Dengan katupan tangan tangan yang sama, aku meminta pada Gusti, semoga langit masing-masing kita selalu bercahaya dan berbahagia. Seperti satu sore di Seminyak, awal semua perjalanan ini dimulai.

***

2 komentar

  1. duh sisst aku mau nangis juga...heuehu

    BalasHapus
  2. Wow...pertama kali ketemu, saya pikir kamu orangnya ceria banget, pung. Recet klo kata orang sunda mah, berisik :D heboh. Tapi di dalamnya kamu punya kesunyian sendiri, sampe pernah coba bunuh diri.Selamat karena udah berani bertahan hidup, Pungki :) kalo kata Albert Camus: but in the end, one needs more courage to live than to kill herself.

    BalasHapus